Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Rakyat Nusantara 'Timun Mas'

  1. Timun Mas.

 Di suatu desa hiduplah seorang janda renta yang berjulukan Mbok Sarni. Tiap hari ia menghabiskan waktunya sendirian, alasannya yaitu Mbok Sarni tidak mempunyai seorang anak. Sebenarnya ia ingin sekali mempunyai anak, supaya sanggup membantunya bekerja.

Pada suatu sore pergilah Mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah saya lewat”, jawab Mbok Sarni. “Hahahaha.... kau boleh lewat sesudah kau memberiku seorang anak insan untuk saya santap”, kata si Raksasa. Lalu Mbok Sarni menjawab, “Tetapi saya tidak mempunyai anak”.

 Di suatu desa hiduplah seorang janda renta yang berjulukan mbok Sarni Cerita Rakyat Nusantara Timun Mas
Cerita Rakyat Nusantara "Timun Mas

Setelah Mbok Sarni menyampaikan bahwa ia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai perempuan tua, ini saya berikan kau biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan sesudah dua ahad kau akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku sesudah usianya enam tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni  kemudian mengambilnya , dan sesudah dibelah ternyata isinya yaitu seorang bayi yang sangat bagus jelita. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Mas.
Semakin hari Timun Mas semakin tumbuh besar, dan Mbok Sarni sangat besar hati sekali alasannya yaitu rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya sanggup selesai dengan cepat alasannya yaitu santunan Timun Mas.

Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni  sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan Timun Mas. Kemudian Mbok Sarni  berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin cerdik balig cukup akal anak ini, maka semakin yummy untuk di santap”. Si Raksasa pun baiklah dan meninggalkan rumah Mbok Sarni .

Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, alasannya yaitu itu tiap hari Mbok Sarni  mencari logika bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati Mbok Sarni sangat cemas sekali, dan balasannya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu supaya Timun Mas menemui petapa di Gunung.

Pagi harinya Mbok Sarni  menyuruh Timun Mas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, Timun Mas kemudian bercerita perihal maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kau dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian Timun Mas pulang ke rumah, dan pribadi menyimpan bungkusan dari sang petapa.

Paginya raksasa tiba lagi untuk menagih janji. “Wahai perempuan tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian Mbok Sarni  menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, alasannya yaitu saya sangat sayang padanya. Lebih baik saya saja yang kau santap”. Raksasa tidak mau mendapatkan proposal dari Mbok Sarni  itu, dan balasannya murka besar. “Mana anak itu? Mana Timun Mas?”, teriak si raksasa.

Karena tidak tega melihat Mbok Sarni  menangis terus, maka Timun Mas keluar dari kawasan sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah saya jikalau kau bisa!!!”, teriak Timun Mas.
Raksasa pun mengejarnya, dan Timun Mas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, alasannya yaitu batang timun tersebut terus melilit tubuhnya.

Tetapi balasannya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mengejar Timun Mas lagi. Lalu Timun Mas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah alasannya yaitu tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.

Kemudian Timun Mas membuka kantong ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutan pun menjadi lautan yang luas. Tetapi lautan itu dengan gampang dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Mas balasannya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasa pun mati.
Timun Mas mengucap syukur kepada Allah YME, alasannya yaitu sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Mas dan Mbok Sarni  hidup senang dan damai.

Demikian Cerita rakyat tentang legenda timun mas, semoga bermanfaat dan sebagai bahan perengungan.